GATE WAY TO TRULY HEAVEN

21/02/11

serba salah

Dengarkanlah Saudaraku
Islam memanggil jiwamu
Islam memanggil jiwamu tuk kembali
Kembali pada bingkai garis kemuliaan para Syuhada
Kembali pada generasi Qur’ani yang istimewa
Yang wataknya tak dapat dipisahkan dari Al Qur’anul Karim
Yang cerminnya bertumbuh bersama originalitas kekasih Alloh teralim, Muhammad SAW


Kadang, kita menyamakan antara perbuatan ‘salah’ satu orang dengan orang lain. Sedikit cerita, saat nabi Muhammad bermuka masam kepada salah seorang umatnya yang buta ketika mendakwahi pembesar mekkah , perbuatan ini langsung ditegur oleh Allah. Karena apa, karena Allah sebegitu sayangnya kepada baginda Rasullullah. Dan kita tentu tahu akan umar alfaruq, salah satu sahabat rasullullah juga. Pernahkah umar bermuka masam, sering. Namun, kadar mereka berbeda. Tak bisa kita samakan bukan. Tentu saja kadar dari kedua orang tersebut beda, antara nabi dan sahabatnya. Tingkat melakukan kesalahan dan kemaksiatan pun beda.

Sebagian dari kita juga tentu tahu akan kisah imam syafii, saat beliau lupa hafalan-hafalannya, setelah ditelisik penyebabnya adalah belum melakukan tilawah pada hari tersebut, subhanallah. Begitulah jika Allah sudah sayang pada hamba-Nya. Tentu tak bisa disandingkan dengan kita, yang jika lupa belum melakukan tilawah, hafalanya masih ada. Pastinya bukan karena kita lebih istimewa.

Memang, setiap pangkal dari apa yang dipaparkan diatas adalah kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Semakin Allah sayang, semakin cepat dan tepat balasan yang Allah berikan. Setidaknya kita harus bertanya ketika secara sadar telah melakukan kemaksiatan, kira-kira kapan dan bagaimana Allah akan membalasnya, lebih-lebih jika tidak diiringi taubat. Dan kita tentu paham, hal terpahit dan tersakit adalah ketika balasan yang kita diterima dieksekusi diakherat kelak, dipepes setengah mateng di neraka. Naudzubillah.

Berbeda memang, tingkat kemaksiatan diantara manusia-manusia sekarang. Muslim tentu saja tidak bisa mengkomparasikan dengan nonmuslim. Salah kaprah ketika kita membandingkan tingkat kemaksiatan kita dengan mereka. Parameternya beda gitu.
Misalnya saja,Bagi si A, tidak tilawah dalam 1 hari mungkin sudah masuk bentuk maksiat kepada Allah. Bagi si B, mungkin hal yang biasa saja. Bagi si C, membuat status ga penting di facebook atau komen-komen ga penting merupakan bentuk maksiat pada Allah, ada pula yang mempunyai batasan, buka facebook pun adalah bagian dari maksiat kepada Allah. berbeda-beda memang. Ada juga yang tingkat pengenalan dalam maksiat sudah melangit. Seperti, dianggap melakukan kemaksiatan ketika waktu yang ada tidak digunakan dalam kebaikan, dan harapannya kita menginginkan juga tingkatan yang seperti ini, implementasinya mungkin dalam doa kita kepada Allah. Tinggal minta sih intinya.

Dan akhirnya, mari kita coba merefleksikan kepada diri sendiri, sudah sampai tingkat seperti apa kita menganggap suatu perbuatan adalah kemaksiatan. Sekaligus meminta agar senantiasa dilembutkan hati agar peka terhadap bentuk-bentuk kemaksiatan yang ada, yang memang kadang tampak samar, terbiaskan maksiat itu sendiri.

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Annisa:17)

(Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.(attaghabun:9)

Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(annahl:119)

Label:

Posted by GATE WAY TO TRULY HEAVEN at 06.02